• MA SABILUL ULUM MAYONG
  • Berilmu Amaliyah Beramal Ilmiyah Berakhlakul Karimah

Refleksi Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW: Membangun Kedisiplinan Siswa di MA Sabilul Ulum Mayong

Isra Mi'raj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam, yang terjadi pada tahun ke-11 kenabian Nabi Muhammad SAW, tepatnya pada malam 27 Rajab. Isra merujuk pada perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem, sementara Mi'raj adalah kenaikan Nabi ke langit hingga Sidratul Muntaha untuk bertemu langsung dengan Allah SWT. Peristiwa ini tidak hanya menjadi mukjizat luar biasa, tetapi juga sarat hikmah yang relevan hingga kini, termasuk dalam pendidikan. Di MA Sabilul Ulum Mayong, Jepara, Jawa Tengah, peringatan Isra Mi'raj menjadi momentum penting untuk merefleksikan nilai-nilai tersebut, khususnya dalam membangun kedisiplinan siswa. Sekolah yang berdiri sejak 1984 dengan motto "Berilmu Amaliyah, Beramal Ilmiyah, Berakhlakul Karimah" ini selalu mengintegrasikan ajaran Islam dalam kegiatan sehari-hari, termasuk peringatan keagamaan.

Setiap tahun, MA Sabilul Ulum Mayong menggelar kegiatan Isra Mi'raj dengan antusiasme tinggi. Pada peringatan tahun 2026 ini, kegiatan ini diadakan dikelas masing-masing dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an surah Al-Isra ayat 1, yang mengisahkan perjalanan malam Nabi: "*Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.*" Acara dilanjutkan dengan ceramah dari Siswa yang ditunjuk, yang menekankan hikmah peristiwa tersebut. Siswa-siswi dari kelas X hingga XII terlibat aktif.
Tidak ketinggalan, kegiatan ditutup dengan shalat berjamaah, diikuti ratusan siswa dan guru. Kegiatan ini bukan sekadar ritual, melainkan upaya membangun karakter siswa sesuai visi Madrasah: menjadi generasi unggul berbasis akhlak mulia dan ilmu yang berkualitas.

Refleksi utama dari Isra Mi'raj adalah pelajaran kedisiplinan yang mendalam. Peristiwa ini mengajarkan bahwa ketaatan dan disiplin adalah kunci keberhasilan spiritual dan duniawi. Nabi Muhammad SAW, meski menghadapi tahun kesedihan (amul huzni) pasca-wafatnya paman Abu Thalib dan istri Khadijah, tetap teguh dalam dakwahnya. Saat Mi'raj, Allah SWT mewajibkan shalat 50 waktu sehari, yang kemudian ditawar menjadi 5 waktu atas permohonan Nabi—tetapi pahalanya tetap 50. Hikmah ini menekankan disiplin waktu: shalat lima waktu mengatur ritme harian, melatih siswa untuk membagi waktu antara belajar, ibadah, dan kegiatan ekstrakurikuler. Di MA Sabilul Ulum Mayong, siswa sering mengalami tantangan seperti jadwal padat mata pelajaran agama dan umum, plus kegiatan pondok pesantren. Namun, melalui refleksi Isra Mi'raj, mereka diajarkan bahwa disiplin seperti shalat bukan beban, melainkan sarana membersihkan hati dan meningkatkan fokus. Seperti yang disebutkan dalam berbagai sumber, shalat mengajarkan manajemen waktu dan kebersihan jiwa, yang langsung berdampak pada prestasi akademik. Siswa yang disiplin dalam shalat cenderung lebih bertanggung jawab, seperti tepat waktu masuk kelas atau menyelesaikan tugas, sesuai motto sekolah yang menekankan amal ilmiyah (beramal dengan ilmu).

Lebih jauh, Isra Mi'raj mengajarkan kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian. Nabi diolok-olok kafir Quraisy saat menceritakan perjalanannya, tapi beliau tetap tegar. Ini menjadi cermin bagi siswa MA Sabilul Ulum Mayong yang sering menghadapi godaan remaja, seperti malas belajar atau pengaruh media sosial. Kegiatan peringatan Isra Mi'raj di Madrasah, seperti diskusi kelompok, membantu siswa merefleksikan: bagaimana Nabi mengatasi keraguan dengan iman kuat? Hasilnya, siswa diajak meningkatkan disiplin diri, seperti rutinitas hafalan Al-Qur'an atau partisipasi dalam ekskul pramuka dan olahraga. Hikmah ini selaras dengan pelajaran dari peristiwa tersebut: disiplin bukan hanya aturan, tapi bentuk cinta kepada Allah. Di madrasah se-Indonesia, kegiatan serupa sering dikaitkan dengan pembentukan karakter disiplin, seperti di MA Sabilul Ulum yang menekankan kedisiplinan melalui shalat.

Pada akhirnya, peringatan Isra Mi'raj di MA Sabilul Ulum Mayong bukan hanya seremoni, melainkan alat pendidikan untuk membentuk siswa yang disiplin, berilmu, dan berakhlak. Dengan merefleksikan perjalanan Nabi, siswa diharapkan menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan zaman, sambil menjaga hubungan vertikal dengan Allah dan horizontal dengan sesama. Semoga hikmah ini terus menyinari langkah mereka, amin.

(By Mas Suliwa)

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Mengenal Allah melalui Aqoid 50: Fondasi Utama Keimanan

Mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala (Ma’rifatullah) merupakan kewajiban pertama dan utama bagi setiap Muslim mukallaf. Sebagaimana ungkapan masyhur dalam kitab-kitab tauhid,

15/01/2023 21:23 - Oleh Sulikan - Dilihat 69 kali
Sample Post 3

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l

15/01/2023 21:23 - Oleh Sulikan - Dilihat 45 kali
Sample Post 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l

15/01/2023 21:23 - Oleh Sulikan - Dilihat 42 kali
Sample Post 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco l

15/01/2023 21:23 - Oleh Sulikan - Dilihat 46 kali